HBA Gaungkan Empat Pilar di Pesantren Darussalam Stano: Santri Jambi Benteng Moderasi Berbangsa

HBA Gelar Empat Pilar di Pesantren Darussalam Stano. (Doc. Dirgahayu.id)

DIRGAHAYU .ID ,Batang Hari — Anggota MPR RI Fraksi Partai Golkar dari Dapil Jambi, Drs. H. Hasan Basri Agus, MM (HBA), kembali menegaskan posisi strategis pesantren dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurut HBA, pesantren bukan hanya pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga benteng utama pembentukan karakter kebangsaan dan moderasi berbangsa.

Penegasan tersebut disampaikan HBA saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara bersama keluarga besar Pondok Pesantren Darussalam Stano, Desa Sengkati Baru, Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari, Jambi, Selasa (9/12/2025).

Mengusung tema “Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara dalam Memperkuat Moderasi Berbangsa”, kegiatan ini diikuti sekitar 160 peserta, yang terdiri dari pimpinan pondok pesantren, majelis guru, santriwan dan santriwati, serta tokoh agama dan masyarakat setempat.

Pesantren, Pilar Strategis Bangsa
Dalam paparannya, HBA menekankan bahwa pesantren memiliki peran historis dan strategis dalam perjalanan bangsa Indonesia. Nilai-nilai keislaman yang diajarkan di pesantren, kata dia, sejatinya memiliki irisan kuat dengan nilai-nilai luhur Pancasila.

“Religiusitas yang sejati tidak pernah bertentangan dengan kecintaan kepada tanah air. Pesantren justru menjadi ruang penting dalam melahirkan santri yang taat beragama, cinta NKRI, dan menghargai keberagaman,”ujar mantan Gubernur Jambi itu.

HBA mengingatkan bahwa “Empat Pilar Kebangsaan—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—”bukan sekadar doktrin normatif negara, melainkan nilai hidup yang harus diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, tantangan kebangsaan saat ini tidak hanya berkaitan dengan persoalan hukum dan ekonomi, tetapi juga menguatnya paham intoleransi, ekstremisme, serta polarisasi sosial yang berpotensi menggerus persatuan bangsa.

“Bangsa Indonesia akan besar dan kuat oleh bangsa Indonesia sendiri. Namun bangsa ini juga bisa runtuh oleh kita sendiri jika gagal menjaga persatuan,” tegas HBA.

Sosialisasi Empat Pilar ini menghadirkan Ir. H. Syahrasaddin, M.Si, Tenaga Ahli Utama MPR/DPR RI, sebagai narasumber, dengan moderator Drs. M. Rum, MM, Tenaga Ahli MPR/DPR RI. Diskusi berlangsung dinamis dan interaktif.

Para santri aktif mengajukan pertanyaan kritis, mulai dari peran konkret pesantren dalam menangkal radikalisme, relasi nilai agama dengan Pancasila, hingga praktik moderasi berbangsa dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.

Menanggapi hal tersebut, HBA menegaskan bahwa Pancasila sejalan dengan nilai-nilai universal agama, seperti keadilan, kemanusiaan, persaudaraan, dan musyawarah. UUD 1945, lanjutnya, menjadi instrumen konstitusional dalam menjamin hak dan kewajiban warga negara, termasuk kebebasan beragama dan hak memperoleh pendidikan.

“Menjaga NKRI adalah tanggung jawab moral sekaligus religius. Pesantren dapat berkontribusi nyata melalui pendidikan nilai, keteladanan, dan perawatan harmoni sosial di tingkat lokal,”kata HBA.

HBA mendorong agar Pondok Pesantren Darussalam Stano menjadi pusat penguatan moderasi berbangsa melalui pengayaan kurikulum nilai kebangsaan, dialog kebangsaan berbasis pesantren, serta pelibatan santri sebagai duta moderasi di tengah masyarakat.

Ia menilai sinergi antara pimpinan pesantren, majelis guru, santri, dan tokoh masyarakat menjadi kunci agar nilai Empat Pilar tidak berhenti pada tataran seremonial, tetapi benar-benar mengakar dalam kehidupan sosial.

Apresiasi dari Pesantren dan Santri
Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Stano menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai sosialisasi Empat Pilar sangat relevan dan bermanfaat bagi santri dalam memahami relasi antara ajaran agama dan kehidupan berbangsa.

“Alhamdulillah, kegiatan yang digelar Pak HBA ini memberikan pemahaman penting bagi santri kami tentang kebangsaan dan keindonesiaan,” ujarnya.

Salah seorang santriwati, Erni, mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
“Kegiatannya sangat bagus dan menambah wawasan kami. Semoga terus berlanjut,” katanya.

Hal senada disampaikan Aldo, santri lainnya, yang menilai sosialisasi Empat Pilar membantu santri memahami dasar-dasar kehidupan berbangsa secara lebih utuh dan kontekstual.

Kegiatan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ini ditutup dengan doa bersama, sesi foto, penyerahan uang transport resmi dari negara, serta ramah tamah antara narasumber, pimpinan pesantren, majelis guru, dan santri.

Melalui kegiatan ini, HBA kembali menegaskan komitmennya menghadirkan negara hingga ke akar rumput, dengan menjadikan Pondok Pesantren Darussalam Stano sebagai mitra strategis dalam menjaga persatuan, menanamkan nilai kebangsaan, dan memperkuat moderasi berbangsa di Provinsi Jambi.

By Redaksi

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *