Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd.
(Ketua PKU MUI Provinsi Jambi)
A. Pendahuluan
DIRGAHAYU.ID – Jambi, merupakan wilayah yang secara historis dibelah oleh alur sungai Batanghari, bukan sekedar entitas geografis di pesisir Timur Sumatra, tapi juga sebuah peradaban intellectual yang telah lama berdenyut dalam nadi peradaban Islam Nusantara. Sejak era Kesultanan Jambi, wilayah ini telah bertransformasi menjadi magnet bagi mobilitas vertikal para pencari ilmu dan penyebar dakwah. Kehadiran Islam di Jambi memicu pergeseran paradigma (paradigm shift) yang radikal, mengubah tatanan sosial-kultural masyarakat agraris-perdagangan menjadi masyarakat yang berbasis pada epistemologi ilmu pengetahuan religius. Sungai Batanghari, dalam konteks ini, tidak hanya berfungsi sebagai urat nadi ekonomi dan perdagangan lada, tetapi juga menjadi “jalan tol” spiritual yang menghubungkan pedalaman Jambi dengan jaringan intelektual kosmopolitan di Samudera Hindia.
Ulama Jambi tidak hanya berperan sebagai aktor moral lokal, tetapi muncul sebagai arsitek peradaban dengan visi global. Pengabdian keumatan mereka dicirikan oleh kemampuan mensintesiskan lokalitas Melayu dengan universalitas Islam. Dalam konstelasi global, ulama Jambi telah mewarnai diskursus keislaman melalui transmisi literatur (kitab) dan jaringan intelektual yang terkoneksi erat dengan pusat-pusat studi di Timur Tengah. Perspektif inilah relevan melakukan tela’ah dinamika pendidikan Islam di Jambi yang telah berhasil memproduksi elit intelektual yang berkontribusi signifikan terhadap peradaban Islam global melalui integrasi tradisi dan respon terhadap modernitas (Latif, 2023).
B. Sejarah Ulama Jambi dan Tradisi Pendidikan Islam
Akar intelektualitas Jambi bersemi melalui tradisi isnad (rantai transmisi) yang sangat rigid dan terjaga. Pada fase formatif, pendidikan Islam di Jambi beroperasi melalui institusi non-formal seperti masjid, surau, dan halaqah di bawah bimbingan para murabbi. Tradisi ini merupakan replikasi dari pola pendidikan di Haramain (Mekkah dan Madinah), yang kemudian memicu fenomena migrasi intelektual besar-besaran ulama Jambi ke pusat spiritual dunia. Fenomena ini menciptakan apa yang disebut sebagai “Kosmopolitanisme Melayu”, di mana identitas lokal Jambi melebur dalam identitas universal Islam tanpa kehilangan jati diri asalnya.
Sekembalinya mereka dari Tanah Suci, para ulama ini tidak sekadar membawa literatur fisik, tetapi membawa metodologi berpikir kritis-sistematis. Fenomena “Jaringan Ulama Jambi-Haramain” menciptakan sebuah “sabuk intelektual” yang tidak terputus. Hal ini menjelaskan mengapa diskursus keislaman di Jambi memiliki karakter Wasathiyah (moderat) yang kuat. Mereka berhasil melakukan kontekstualisasi teks-teks klasik ke dalam realitas sosiologis Melayu Jambi tanpa mereduksi esensi syariat. Transformasi dari sistem pengajian tradisional menuju madrasah klasikal di awal abad ke-20 merupakan bukti adaptabilitas ulama Jambi terhadap arus modernitas pendidikan. Para ulama ini menyadari bahwa untuk melawan hegemoni kolonialisme, penguatan basis intelektual melalui literasi adalah strategi pertahanan yang paling fundamental (Hasbullah et al., 2021).
C. Dinamika Pondok Pesantren di Jambi: Episentrum Kaderisasi Ulama
Pesantren di Jambi berfungsi sebagai “pabrik intelektual” yang mandiri. Secara sosiologis, pesantren-pesantren tertua di Jambi, khususnya di kawasan Seberang Kota Jambi, bertindak sebagai penjaga gawang (gatekeeper) tradisi keilmuan Islam Melayu. Berikut adalah 10 institusi yang menjadi pilar utama reproduksi ulama di Jambi beserta data historis pendiriannya:
1. Pondok Pesantren Nurul Iman (Ulu Gedong, Kota Jambi), berdiri 1915 M/1333 H. Tokoh Pendiri, KH. Abdul Somad bin Haji Ibrahim (Guru Somad) beserta tokoh-tokoh dari organisasi Tsamaratul Insan. Karakter Institusi pionir yang menghubungkan Jambi dengan kurikulum modern-klasikal.
2. Pondok Pesantren Sa’adatuddaren (Tahtul Yaman, Kota Jambi). Berdiri 1915 M/1333 H. Tokoh Pendiri, KH. Ahmad Syakur (Guru Gemuk), Karakter Fokus pada kedalaman ulum al-alat dan fiqih, menjadi representasi Madrasah Shaulatiyah Mekkah di Jambi.
3. Pondok Pesantren As’ad (Olak Kemang, Kota Jambi). Berdiri: 1951 M. Tokoh Pendiri, KH. Abdul Qadir Ibrahim. Karakter pondok, Pusat kaderisasi ulama-birokrat dan simbol resiliensi budaya Seberang Jambi.
4. Pondok Pesantren Al-Baqiyatush Shalihat (Kuala Tungkal, Tanjung Jabung Barat). Berdiri, 1985 M (Formal), rintisan kegiatan dakwah sejak 1960-an. Tokoh Pendiri, KH. Muhammad Ali bin Syekh Abdul Wahab. Karakter, Sentrum kajian tasawuf dan benteng keilmuan masyarakat pesisir Jambi.
5. Madrasah/Pondok Pesantren Jauharen (Tahtul Yaman, Kota Jambi). Berdiri 1922 M/1341 H. Tokoh Pendiri, KH. Muhammad Saleh bin Haji Tubu. Karakter, Melahirkan penulis produktif seperti KH. Junus bin Shaleh (Penulis kitab An-Nukhbah al-Bahiyyah).
6. Pondok Pesantren Nurul Islam (Tanjung Pasir, Kota Jambi).Berdiri: 1923 M. Tokoh Pendiri: KH. Kemas Muhammad Saleh bin Kemas Haji Muhammad Amin. Karakter, Memainkan peran strategis dalam dakwah lintas-kultural di hilir Sungai Batanghari.
7. Pondok Pesantren Al-Irsyad (Kota Jambi). Berdiri, 1940-an. Tokoh Pendiri, KH. Muhammad Zubair.Karakter, Fokus pada penguatan basis akidah dan pendidikan moral masyarakat urban.
8. Pondok Pesantren Mamba’ul Ulum (Tebo). Berdiri 1970-an. Tokoh Tokoh: KH. M.Syuhadi. Karakter, Penjaga tradisi salafiyah yang kokoh di wilayah pedalaman Jambi.
9. Pondok Pesantren Diniyyah Al-Azhar (Bungo). Tahun Berdiri: 1977 M. Tokoh Pendiri, Dra. Hj. Sunadiah. Karakter, Menampilkan wajah modern dan kosmopolitan dengan jaringan internasional yang kuat.
10. Pondok Pesantren Modern (PKP) Al-Hidayah (Kota Jambi).Berdiri, 1982 M. Tokoh Pendiri, KH. Abdurrahman Sayoeti (bersama Pemerintah Provinsi Jambi). Karakter, Pionir integrasi sains dan agama di tingkat provinsi.
C. Dinamika Pondok Pesantren di Jambi: Episentrum Kaderisasi Ulama
Pesantren di Jambi berfungsi sebagai “pabrik intelektual” yang mandiri. Secara sosiologis, pesantren-pesantren tertua di Jambi, khususnya di kawasan Seberang Kota Jambi, bertindak sebagai penjaga gawang (gatekeeper) tradisi keilmuan Islam Melayu. Berikut adalah 10 institusi yang menjadi pilar utama reproduksi ulama di Jambi.
D. Profil Ulama Besar Jambi dan Karya Monumental
Kedalaman intelektual ulama Jambi termanifestasi dalam karya-karya tulis yang menjadi rujukan lintas negara. Salah satu sosok yang patut dikedepankan adalah KH. Junus bin Shaleh, alumni Madrasah Jauharen yang memiliki ketajaman dalam disiplin ilmu alat dan fiqih. Beliau menulis kitab “An-Nukhbah al-Bahiyyah”, sebuah karya yang mengulas tentang kaidah-kaidah penting dalam memahami teks-teks keagamaan. Karya ini menunjukkan bahwa lulusan pesantren Jambi memiliki kapasitas teoretis yang setara dengan sarjana-sarjana di pusat dunia Islam.
Selain itu, terdapat tokoh-tokoh lain seperti:
KH. Abdul Qadir Ibrahim dengan kitab Nailul Mathlub (Fiqih).
KH. Ahmad Syakur dengan Al-Yawaqit al-Jauhariyah (Ushul Fiqih).
KH. Muhammad Ali (Kuala Tungkal) melalui kitab Senjata Mukmin yang sangat populer di Malaysia dan Brunei.
KH. M. Said Ibrahim yang produktif menulis kitab Qanun Syara’iah dan Akidah Ahli Sunnah wal Jamaah saat menjabat sebagai Mufti di Malaysia.
Keberadaan karya-karya ini membuktikan bahwa Jambi bukan sekadar konsumen ilmu pengetahuan, melainkan produsen pemikiran yang aktif memberikan kontribusi pada literatur Islam global (Latif, 2023).
E. Sentuhan Ulama Jambi dan Timur Tengah: Kolaborasi Peradaban
Interaksi ulama Jambi dengan Timur Tengah adalah kemitraan intelektual (intellectual partnership). Kehadiran ulama Jambi sebagai Muqimin dan pengajar di Masjidil Haram menunjukkan pengakuan internasional atas otoritas mereka. Nama-nama ulama Jambi sering muncul dalam catatan sejarah memiliki kedekatan dengan Syaikh Sa’id al-Yamani, menunjukkan bahwa Jambi berada di jalur utama (mainstream) keilmuan Islam dunia.
Sinergi ini memicu hibridisasi pemikiran; di mana pemikiran kritis-rasionalis Al-Azhar bersinggungan dengan analisis tekstual pesantren Jambi. Kolaborasi ini membentuk jaringan gerakan sosial yang menyuarakan moderasi (wasathiyah). Ulama Jambi berperan sebagai “diplomat budaya” yang memperkenalkan wajah Islam Nusantara yang ramah ke panggung dunia (Fauzi, 2020). Kifrah ini semakin diperkuat dengan keterlibatan ulama kontemporer Jambi dalam forum akademik internasional, merespons isu-isu global seperti keadilan ekonomi dan hak asasi manusia dari perspektif hukum Islam.
F. Penutup
Eksistensi ulama Jambi di pentas dunia adalah manifestasi dedikasi epistemik yang melampaui batas geografis. Melalui 10 pesantren legendaris, Jambi secara konsisten mengirimkan “duta peradaban” ke kancah global. Keberhasilan ini adalah buah dari keteguhan menjaga tradisi dan keberanian berinovasi. Tantangan masa depan adalah melakukan digitalisasi warisan intelektual ini,seperti karya KH. Junus bin Shaleh dan ulama lainnya, agar dapat diakses oleh masyarakat global melalui platform teknologi informasi.
Ulama Jambi telah membuktikan bahwa kearifan lokal (local wisdom) yang dikelola dengan standar intelektual tinggi akan menjadi kontribusi berharga bagi kemanusiaan global. Sebagaimana Sungai Batanghari yang bermuara ke samudera luas, aliran pemikiran ulama Jambi akan terus menghidupi peradaban dunia jika dirawat dengan komitmen intelektual yang berkelanjutan. Jambi tetap menjadi simbol kejayaan intelektual Islam yang terus bersinar di panggung dunia (Rahman, 2024).
Referensi:
1. Al-Attas, S. M. N. (1972). Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu. Kuala Lumpur: ABIM.
2. Al-Banjari, M. A. (2010). Sabilal Muhtadin. Beirut: Dar al-Kutub.
3. Al-Ghazali, A. H. (2015). Ihya Ulumuddin. Beirut: Dar al-Minhaj.
4. Azra, A. (2004). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Jakarta: Kencana.
5. Bruinessen, M. V. (1995). Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat. Bandung: Mizan.
6. Daulay, H. P. (2007). Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana.
7. Fauzi, A. (2020). “The Role of Jambi Ulama in Developing Islamic Moderation in the Malay World.” Journal of Malay World Studies, 3(2).
8. Federspiel, H. M. (2001). Islam and Ideology in the Emerging Indonesian State. Leiden: Brill.
9. Hasbullah, H., et al. (2021). “Intellectual Networks of Jambi Ulama in the Middle East: A Historical Perspective.” International Journal of Islamic Thought, 19(1).
10. Latif, M. (2014). Spektrum Pendidikan Islam: Dari Tradisional Hingga Kontemporer. Jakarta: Prenada Media.
11. Latif, M. (2023). “Educational Transformation in Jambi: Balancing Tradition and Modernity.” Journal of Islamic Education Studies, 11(1).
12. Madjid, N. (1997). Bilik-Bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan. Jakarta: Paramadina.
13. Mulyadi, M., & Syukri, A. (2022). “The Dynamics of Pesantren in Jambi: Facing the Challenges of Society 5.0.” Indonesian Journal of Islamic Education, 8(3).
14. Rahman, A. (2024). “Globalizing Local Wisdom: The Impact of Jambi Scholars on International Da’wah.” Global Islamic Review, 6(1).
15. Shihab, M. Q. (2011). Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan.
16. Steenbrink, K. (1986). Pesantren, Madrasah, Sekolah. Jakarta: LP3ES.
17. Syalabi, A. (2003). Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Al-Husna Zikra.
18. Yasmadi. (2002). Modernisasi Pesantren. Jakarta: Ciputat Press.
19. Zainuddin, M. (2010). Metodologi Studi Islam. Jakarta: Logos.
20. Zuhri, S. (1979). Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia. Bandung: Al-Ma’arif.**
