DIRGAHAYU.ID , Sarolangun— Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Fraksi Partai Golkar Dapil Jambi, Drs. H. Hasan Basri Agus, MM (HBA), menegaskan bahwa pesantren memiliki posisi strategis sebagai benteng ideologis bangsa dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah tantangan era digital dan derasnya arus informasi global.
Penegasan tersebut disampaikan HBA saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bersama Pondok Pesantren Salaful Muhajirin, Desa Bukit Murau, Kecamatan Singkut, Kabupaten Sarolangun, Rabu (24/12/2025), bertempat di aula pesantren setempat.
Kegiatan yang mengusung tema “Internalisasi Empat Pilar Kebangsaan untuk Santri: Membentuk Karakter Santri yang Religius, Nasionalis, dan Toleran” ini diikuti sekitar 160 peserta, terdiri dari pimpinan pesantren, majelis guru, santriwan dan santriwati Ponpes Salaful Muhajirin.
Dalam paparannya, HBA menekankan bahwa internalisasi Empat Pilar Kebangsaan-Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945-di lingkungan pesantren bukan sekadar formalitas kenegaraan, melainkan kebutuhan strategis dalam membentengi santri dari paham intoleransi dan radikalisme.
“Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua dan asli Indonesia. Sejak awal berdirinya republik ini, santri dan ulama adalah penjaga utama NKRI. Karena itu, santri harus kuat dalam agama sekaligus kokoh dalam komitmen kebangsaan,” ujar HBA.
Menurut HBA, narasi transnasional yang kerap membenturkan agama dan negara menjadi tantangan serius bagi generasi muda, termasuk santri. Oleh sebab itu, pesantren perlu menjadi ruang strategis untuk meneguhkan bahwa Islam dan nasionalisme bukan dua kutub yang bertentangan, melainkan saling menguatkan.
HBA mengulas bahwa Pancasila dapat dipahami sebagai kalimatun sawa atau titik temu seluruh elemen bangsa, sementara NKRI merupakan bentuk final negara yang disepakati para pendiri bangsa, termasuk para ulama dan tokoh pesantren.
“Cinta tanah air adalah bagian dari iman. Menjaga NKRI berarti menjaga kemaslahatan umat. Santri harus tampil sebagai agen moderasi dan persatuan,” tegasnya.
Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ini menghadirkan Ir. H. Syahrasaddin, M.Si, Tenaga Ahli Utama MPR/DPR RI, sebagai narasumber. Kegiatan dipandu secara interaktif oleh M. Rum, SE, MM, Tenaga Ahli MPR/DPR RI.
Diskusi berlangsung dinamis. Para santri tampak antusias menyampaikan pandangan, bertanya, dan berdialog mengenai relevansi Pancasila, demokrasi, toleransi, serta peran santri dalam menjaga persatuan bangsa di era milenial. Sejumlah hadiah juga diberikan sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi aktif peserta.
Pimpinan Ponpes Salaful Muhajirin Desa Bukit Murau menyambut baik kegiatan tersebut. Menurut mereka, sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan sejalan dengan visi pesantren dalam membentuk santri yang berakhlakul karimah, moderat, cinta tanah air, dan siap berkontribusi bagi masyarakat.
Dalam penutupnya, HBA menegaskan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada kualitas generasi mudanya, termasuk para santri.
“Pesantren bukan hanya tempat mencetak ulama, tetapi juga kawah candradimuka lahirnya negarawan yang religius. Dari pesantren seperti Salaful Muhajirin inilah Indonesia yang damai dan kokoh dirawat,” pungkas HBA.

Kegiatan sosialisasi ditutup dengan doa bersama, sesi foto, penyerahan uang transport resmi dari negara, serta ramah tamah antara narasumber, pimpinan pesantren, dan para santri.(Hi)
