DIRGAHAYU.ID ,Kota Jambi — Anggota MPR RI Fraksi Partai Golkar Dapil Jambi, Drs. H. Hasan Basri Agus, MM (HBA), menegaskan bahwa pondok pesantren memiliki posisi strategis sebagai benteng ideologis bangsa dalam memperkuat karakter kebangsaan generasi muda di tengah tantangan globalisasi dan disrupsi nilai.
Penegasan tersebut disampaikan HBA saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bersama Pondok Pesantren Daarusalam Alhafidz, Kelurahan Kenali Asam Atas, Kecamatan Kota Baru, Kota Jambi, yang berlangsung di Aula Ponpes Daarusalam Alhafidz, Jum’at (26/12/2025).
Mengusung tema “Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara: Penguatan Karakter Kebangsaan Santri Pondok Pesantren”, kegiatan ini diikuti 160 peserta yang terdiri dari pimpinan pesantren, majelis guru, santriwan dan santriwati, serta perwakilan tokoh agama dan warga Kelurahan Kenali Asam Atas.

Dalam paparannya, HBA menekankan bahwa santri tidak hanya dipersiapkan sebagai insan yang kuat secara keilmuan dan spiritual, tetapi juga sebagai warga negara yang memiliki komitmen kebangsaan, cinta tanah air, serta mampu hidup harmonis dalam masyarakat yang majemuk.
“Santri adalah aset strategis bangsa. Ketika nilai keislaman dipadukan dengan pemahaman Empat Pilar Kebangsaan, maka pesantren akan melahirkan generasi yang religius, moderat, dan nasionalis,”ujar HBA.
Menurut HBA, Empat Pilar Kebangsaan-Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika,NKRI, dan UUD 1945-tidak bertentangan dengan ajaran Islam, bahkan sejalan dengan nilai-nilai tauhid, keadilan, persaudaraan, musyawarah, dan kepedulian sosial yang diajarkan di pesantren.
Sosialisasi ini menghadirkan Ir. H. Syahrasaddin, M.Si, Tenaga Ahli Utama MPR/DPR RI, sebagai narasumber, serta dimoderatori secara interaktif oleh Drs. M. Rum, MM, Tenaga Ahli MPR/DPR RI.
Diskusi berlangsung dinamis dengan para santri aktif mengajukan pertanyaan kritis terkait peran Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945 dalam menangkal radikalisme serta menjaga persatuan bangsa.
Sejumlah santri mempertanyakan peran konkret pesantren dalam menghadapi paham intoleransi dan ekstremisme. Menanggapi hal tersebut, HBA mendorong santri untuk menjadi agen perdamaian, dai kebangsaan, serta teladan toleransi di tengah masyarakat.
“Pesantren adalah miniatur Indonesia. Dari sinilah semangat Bhinneka Tunggal Ika, moderasi beragama, dan persatuan nasional harus terus dirawat,” tegasnya.
Kegiatan ini juga menjadi ruang penyerapan aspirasi dari kalangan pesantren agar penguatan nilai kebangsaan dilakukan secara kontekstual, dialogis, dan selaras dengan tradisi keilmuan pesantren. Peserta mendorong agar santri dilibatkan aktif sebagai duta moderasi beragama dan kebangsaan, baik di ruang sosial maupun digital.


Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ini ditutup dengan doa bersama, sesi foto, penyerahan uang transport resmi dari negara, serta ramah tamah antara narasumber, pimpinan Ponpes Daarusalam Alhafidz, majelis guru, santri, dan masyarakat setempat.

Melalui kegiatan ini, HBA berharap Pondok Pesantren Daarusalam Alhafidz Kota Jambi terus menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan santri berakhlak mulia, berwawasan kebangsaan, serta berkomitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (Hi)
