DIRGAHAYU.ID — Ketua Ikatan Saudagar Muslimah Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi, Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd., mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memaknai pengabdian sebagai amanah yang harus dijalankan dengan keikhlasan, akhlak, dan kepedulian terhadap sesama.
Menurut Ernawati, merawat Jambi tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik dan kemajuan ekonomi. Pembangunan juga harus menyentuh karakter, moral, kehidupan keagamaan, serta masa depan generasi muda.
Pesan tersebut ia sampaikan melalui refleksi bertajuk “Menjaga Amanah, Merawat Jambi, Menyambung Risalah Kebaikan”. Dalam tulisannya, Ernawati menekankan bahwa setiap kesempatan untuk berbuat baik merupakan tanggung jawab yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Ia mengingatkan, jabatan, kedudukan, ilmu, harta, dan pengaruh bukan semata-mata sesuatu yang harus dinikmati, melainkan titipan yang seharusnya digunakan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Ketika seseorang memilih untuk mengabdikan dirinya kepada masyarakat, janganlah semata-mata melihat apa yang akan diperoleh. Tetapi lihatlah apa yang dapat diberikan,” tulis Ernawati.
Pengabdian Diuji, Kebaikan Jangan Berhenti
Ernawati menilai, perjalanan untuk melakukan kebaikan tidak selalu berjalan mulus. Perbedaan pandangan, teguran, keraguan, maupun berbagai hambatan dapat menjadi bagian dari proses pengabdian.
Namun, menurut dia, kesulitan tidak seharusnya menjadi alasan untuk meninggalkan niat baik. Sebaliknya, setiap persoalan perlu dihadapi dengan kesabaran, evaluasi diri, dan cara-cara yang santun.
Ia juga mengingatkan pentingnya meneladani Rasulullah SAW yang tetap mengedepankan kesabaran, kasih sayang, dan keteguhan dalam menyampaikan kebenaran di tengah berbagai tantangan dakwah.
Bagi Ernawati, memperjuangkan kebaikan bukan berarti mencari pertentangan. Musyawarah, persaudaraan, kelembutan, dan kedamaian tetap harus menjadi landasan dalam menyelesaikan perbedaan.
“Jika niat kita adalah membantu masyarakat, maka lakukanlah dengan cara yang santun. Jika tujuan kita adalah memperbaiki keadaan, maka lakukanlah dengan ilmu,” tulisnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa tujuan yang baik harus diiringi cara yang baik pula. Kritik perlu disampaikan tanpa merendahkan, perbedaan tidak harus berujung permusuhan, dan kesalahan sepatutnya menjadi ruang untuk memperbaiki diri.
Pembangunan Jambi Harus Berjalan Seiring dengan Penguatan Akhlak
Dalam refleksinya, Ernawati menyebut Jambi bukan sekadar wilayah geografis, melainkan rumah bersama yang menyimpan sejarah, adat, budaya, nilai keagamaan, dan warisan para pendahulu.
Ia mengangkat falsafah Melayu Jambi, “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah”, sebagai pengingat pentingnya menjaga hubungan antara nilai adat, ajaran agama, dan pembentukan karakter masyarakat.
Menurut Ernawati, kemajuan daerah harus disertai upaya membangun manusia yang berilmu, berakhlak, memiliki kepedulian sosial, serta berpegang pada nilai moral.
Tantangan seperti narkoba, kekerasan, kemiskinan, dan berbagai persoalan sosial lainnya, kata dia, tidak dapat diselesaikan hanya dengan saling menyalahkan. Diperlukan keterlibatan bersama antara pemerintah, keluarga, lembaga pendidikan, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh lapisan masyarakat.
Setiap unsur memiliki peran sesuai dengan kapasitasnya. Pemerintah menjalankan tanggung jawab pelayanan dan pembangunan, keluarga membentuk karakter anak, lembaga pendidikan memperkuat ilmu pengetahuan, sementara tokoh agama dan organisasi masyarakat turut menanamkan nilai-nilai kebaikan.
“Dan kita semua, sebagai bagian dari masyarakat Jambi, memiliki tanggung jawab moral untuk mengambil bagian sesuai dengan kemampuan masing-masing,” tulisnya.
Mengubah Cara Pandang: Bukan Hanya Menerima, tetapi Memberi
Salah satu pesan utama yang disampaikan Ernawati adalah ajakan untuk mengubah cara pandang terhadap pengabdian dan kehidupan bermasyarakat.
Ia mengajak masyarakat agar tidak hanya mempertanyakan manfaat yang dapat diperoleh dari daerah, bangsa, atau lingkungan tempat tinggal, tetapi juga memikirkan kontribusi yang bisa diberikan.
Bagi Ernawati, semangat membangun daerah harus bertumpu pada kesediaan untuk berbuat, bukan semata-mata menuntut hasil.
Kepedulian, menurut dia, dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Membantu tetangga yang kesulitan, memperhatikan anak-anak yang belum memperoleh kesempatan pendidikan yang memadai, serta menguatkan masyarakat yang sedang menghadapi persoalan merupakan bagian dari pengabdian yang nyata.
Ia juga mengingatkan bahwa kesalehan tidak cukup diwujudkan melalui hubungan pribadi dengan Allah SWT, tetapi perlu tercermin dalam perilaku dan kepedulian terhadap sesama.
Prinsip Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, menurut refleksinya, harus hadir dalam kehidupan sehari-hari melalui kasih sayang, solidaritas, dan tindakan yang membawa kemaslahatan.
Masa Depan Generasi Jambi Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Ernawati menaruh perhatian besar terhadap masa depan generasi muda Jambi. Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi dan penguasaan ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan penguatan iman, akhlak, penghormatan kepada orang tua, serta kecintaan terhadap adat dan budaya.
Menurut dia, tantangan terbesar bukan hanya kondisi yang dihadapi masyarakat saat ini, melainkan bagaimana memastikan anak-anak Jambi tumbuh menjadi generasi yang kuat secara intelektual, spiritual, dan moral.
Karena itu, pembinaan generasi tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada keadaan. Peran keluarga, sekolah, masjid, komunitas, organisasi, dan lingkungan sosial harus saling melengkapi.
Ia mengajak masyarakat memulai perubahan dari lingkup terdekat, termasuk keluarga dan lingkungan tempat tinggal.
Bagi Ernawati, menjaga generasi merupakan bagian dari amanah yang tidak boleh diabaikan. Anak-anak hari ini adalah bagian penting dari masa depan Jambi, sehingga mereka membutuhkan pendidikan, keteladanan, perhatian, dan lingkungan yang mendukung pertumbuhan karakter.
Jabatan dan Pengaruh Harus Menghadirkan Manfaat
Lebih jauh, Ernawati mengingatkan bahwa kedudukan, kekayaan, popularitas, dan pujian manusia bukanlah ukuran akhir keberhasilan seseorang.
Semua itu, menurut dia, seharusnya menjadi sarana untuk memperluas manfaat bagi orang lain.
Ilmu digunakan untuk mencerdaskan, kekayaan untuk membantu, jabatan untuk melayani, kekuatan untuk melindungi, dan kesempatan untuk mengabdi.
Ia juga menegaskan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang memiliki kekurangan dan dapat melakukan kesalahan. Karena itu, ruang untuk menerima kritik, memperbaiki diri, dan menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah perlu terus dijaga.
Ernawati tidak ingin pengabdian dipandang sebagai perjuangan satu orang atau kelompok tertentu. Ia menyebutnya sebagai ikhtiar bersama yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
“Jika ada kekurangan, mari kita perbaiki bersama. Jika ada kesalahan, mari kita koreksi dengan cara yang baik. Jika ada perbedaan, mari kita dudukkan melalui musyawarah,” tulisnya.
Meninggalkan Kebaikan sebagai Warisan
Pada bagian akhir refleksinya, Ernawati mengajak masyarakat untuk kembali mempertanyakan makna amanah dan apa yang telah dilakukan selama menjalani kehidupan.
Menurut dia, ukuran pengabdian bukan terletak pada seberapa banyak orang mengenal seseorang atau seberapa tinggi kedudukannya, melainkan pada manfaat yang telah diberikan dan kebaikan yang ditinggalkan.
Ia berharap masyarakat Jambi semakin maju, berilmu, beradab, sejahtera, dan religius, sekaligus mampu melahirkan generasi yang mencintai Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Bagi Ernawati, merawat Jambi membutuhkan kerja bersama yang berkelanjutan, dengan ilmu sebagai landasan pembangunan, akhlak sebagai pedoman perilaku, serta kasih sayang sebagai dasar menjaga generasi.
Pesan yang ingin ditegaskannya sederhana: amanah tidak cukup diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
Sebab, pada akhirnya, nilai sebuah pengabdian tidak hanya diukur dari apa yang berhasil diraih selama hidup, tetapi juga dari manfaat yang tetap dirasakan orang lain setelah seseorang tiada.***
Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd.
Ketua ISMI Provinsi Jambi






