KETIKA DISIPLIN Kehilangan Wibawa

Dr. JAMILAH Dosen UIN STS Jambi. (Doc. FR)

Membaca Krisis Pendidikan, Adab, dan Otoritas di Zaman Kita

Oleh : Dr. JAMILAH
Dosen UIN STS Jambi

DIRGAHAYU.ID – Di masa lampau, didikan yang keras dan tegas bukanlah sesuatu yang diperdebatkan. Ia diterima sebagai bagian dari proses pembentukan karakter. Anak-anak tumbuh dalam suasana disiplin, patuh, dan memiliki rasa segan terhadap orang tua, guru, serta mereka yang lebih tua. Ada batas yang jelas antara yang pantas dan yang melampaui, antara adab dan pembangkangan. Salah bicara memiliki konsekuensi, dan konsekuensi itu dipahami sebagai pelajaran, bukan penindasan.

Hari ini, potret itu terasa semakin pudar. Di banyak ruang kehidupan rumah, sekolah, bahkan ruang publik kita menyaksikan pergeseran yang mencolok: orang tua sering kali mengalah kepada anak, guru kehilangan wibawa di hadapan murid, dan yang lebih tua harus menahan diri di hadapan yang lebih muda. Fenomena ini bukan sekadar perubahan zaman, melainkan pertanda krisis yang lebih dalam: krisis adab, krisis otoritas moral, dan krisis pendidikan.

#Kasus Jambi: Alarm Sosial yang Tidak Boleh Diabaikan

Apa yang terjadi di Provinsi Jambi dalam beberapa waktu terakhir menjadi cermin yang menyentak kesadaran kita bersama. Kasus pengeroyokan seorang guru oleh murid di salah satu SMK di kabupaten di Jambi bukan sekadar peristiwa kriminal biasa. Ia adalah alarm sosial bahwa relasi pendidik dan peserta didik sedang berada pada titik rawan.

Lebih jauh lagi, publik juga dikejutkan oleh kasus seorang guru yang justru dipidanakan oleh orang tua murid hanya karena memotong rambut anak didiknya tindakan yang dalam tradisi pendidikan lama dipahami sebagai bagian dari penegakan disiplin dan pembinaan karakter. Dua peristiwa ini memperlihatkan ironi zaman: ketika guru berusaha mendidik, justru ia yang terpojok; ketika murid melanggar adab, pembelaan justru mengarah pada pembenaran.

Kasus-kasus ini tidak berdiri sendiri. Ia adalah potret kecil dari krisis besar yang sedang melanda dunia pendidikan kita.

#Disiplin, Adab, dan Ajaran Islam

Dalam Islam, relasi antara anak dan orang tua, murid dan guru, dibangun di atas fondasi adab. Al-Qur’an secara tegas melarang seorang anak bersikap durhaka kepada orang tua. Bahkan mengucapkan kata “ah” saja dianggap sebagai bentuk pembangkangan (QS. Al-Isra: 23). Islam menempatkan orang tua dan guru pada posisi yang mulia, bukan karena kekuasaan, tetapi karena peran mereka dalam membentuk manusia.

Rasulullah SAW bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan bahwa penghormatan terhadap otoritas moral adalah bagian integral dari akhlak Islam.

Dalam konteks pendidikan, guru dalam tradisi Islam klasik bukan hanya pengajar ilmu, tetapi juga pendidik jiwa. Ia memiliki hak untuk menegur, membimbing, bahkan mendisiplinkan, selama dilakukan dalam koridor adab dan niat mendidik.

#Pandangan Filsuf Islam tentang Pendidikan Sejati

Para filsuf dan pemikir Islam telah lama mengingatkan bahwa pendidikan sejati bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan pembentukan karakter dan adab.

Imam Al-Ghazali (1058–1111) dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan pembentukan akhlak. Ilmu tanpa adab, menurut Al-Ghazali, justru akan melahirkan kerusakan. Murid harus menghormati gurunya sebagaimana ia menghormati orang tuanya, karena guru adalah orang tua ruhani.

Ibnu Sina (980–1037) memandang pendidikan sebagai proses pembiasaan. Anak perlu dibiasakan dengan disiplin sejak dini, karena karakter tidak lahir secara instan. Ketegasan dalam pendidikan, menurutnya, bukan kekerasan, tetapi metode agar potensi rasional dan moral anak berkembang secara seimbang.

Sementara itu, Ibnu Khaldun (1332–1406) dalam Muqaddimah mengingatkan bahaya pendidikan yang terlalu keras hingga bersifat menindas, tetapi ia juga mengkritik pendidikan yang terlalu lunak. Pendidikan yang kehilangan otoritas, kata Ibnu Khaldun, akan melahirkan generasi yang lemah karakter dan tidak menghormati norma sosial.

Ketiga pemikir ini sepakat pada satu titik: pendidikan harus menanamkan adab, dan adab membutuhkan otoritas moral yang dihormati.

#Pengaruh Hukum dan Nilai Barat

Sebagian pihak menilai bahwa salah satu penyebab melemahnya wibawa guru dan orang tua adalah adopsi nilai-nilai hukum dan pendidikan dari Barat yang tidak sepenuhnya selaras dengan budaya dan nilai keagamaan Indonesia. Prinsip perlindungan anak, yang sejatinya bertujuan mulia, dalam praktiknya kerap ditafsirkan secara sempit dan berlebihan.

Ketika setiap bentuk ketegasan dipersepsikan sebagai kekerasan, ketika setiap teguran dianggap pelanggaran hak, maka pendidikan kehilangan ruang untuk membentuk karakter. Guru menjadi takut bertindak, orang tua mudah melapor, dan anak tumbuh tanpa batas yang jelas.

Padahal, budaya Indonesia yang berakar pada adat dan agama selalu menempatkan hormat kepada yang lebih tua sebagai nilai utama. Dalam adat Melayu Jambi, misalnya, dikenal pepatah “ *adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah”,* yang menegaskan bahwa adat, agama, dan pendidikan adalah satu kesatuan nilai.

#Mencari Jalan Tengah

Opini ini bukan seruan untuk mengembalikan kekerasan dalam pendidikan. Kekerasan, dalam bentuk apa pun, tidak pernah dibenarkan. Namun, membedakan antara kekerasan dan ketegasan adalah hal yang sangat penting. Ketegasan yang berlandaskan adab, niat mendidik, dan tanggung jawab moral adalah bagian dari pendidikan itu sendiri.

Kasus di Jambi seharusnya menjadi momentum evaluasi bersama: bagaimana regulasi pendidikan diterapkan, bagaimana perlindungan guru dijamin, dan bagaimana orang tua, sekolah, serta negara duduk bersama mencari jalan tengah yang adil.

Pendidikan adalah proses panjang membentuk manusia, bukan sekadar mencetak lulusan. Tanpa disiplin, pendidikan kehilangan arah. Tanpa adab, ilmu kehilangan makna. Dan tanpa wibawa guru, sekolah kehilangan ruhnya.

Apa yang kita saksikan hari ini di Jambi dan di banyak daerah lain ,adalah panggilan untuk kembali menata nilai. Bukan mundur ke masa lalu, tetapi mengambil hikmah dari kearifan lama untuk menjawab tantangan zaman.

Sebagaimana diingatkan Imam Al-Ghazali, “ _Ilmu tanpa adab adalah kegilaan, dan adab tanpa ilmu adalah kesia-siaan.”_ Maka, jika kita ingin menyelamatkan masa depan anak-anak kita, kita harus berani mengembalikan adab, menegakkan disiplin yang manusiawi, dan memulihkan martabat pendidikan itu sendiri.

Referensi Singkat :

1. Al-Qur’an Surah Al-Isra: 23
2. Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin
3. Ibnu Sina, Kitab al-Siyasah
4. Ibnu Khaldun, Muqaddimah
5. HR. Tirmidzi tentang penghormatan kepada yang lebih tua

Editor : Wo Bujang

By Redaksi

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *